KEKURANGAN MURIDKU ADALAH ANUGERAH TUHAN

KEKURANGAN MURIDKU ADALAH ANUGERAH TUHAN
Agus Junaedi, SPd.
Guru IPA SMPN 10 Salatiga.
Tak ada manusia yang terlahir sempurna, jangan kau sesali segala yang telah terjadi.Kita pasti pernah dapatkan cobaan yang berat, seakan hidup ini tak ada artinya lagi. Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah, tetap jalani hidup ini, melakukan yang terbaik. Tak ada manusia yang terlahir sempurna, jangan kau sesali segala yang telah terjadi. Syukuri apa yang ada hidup adalah anugerah, tetap jalani hidup ini melakukan yang terbaik. Tuhan pasti kan menunjukkan kebesaran dan kuasaNya bagi hambaNya yang sabar dan tak kenal putus asa. Jangan menyerah!
Syair lagu di atas menggambarkan betapa manusia tidak ada yang sempurna. Pasti ada kekurangan dalam kemuliaan makhluk. Kenikmatan dalam menerima kekurangan tersebut adalah tergantung bagaimana managemen hati kita. Di sekolah, murid-murid yang kita hadapi juga tidak selamanya sesuai dengan harapan kita. Kecerdasan di antara banyak murid sangat bervariasi, ada yang tinggi, ada yang rendah. Akibat adanya seleksi penerimaan peserta didik baru, salah satunya adalah banyak sekolah yang hanya mendapat murid “pinggiran”, murid yang berkekurangan, termasuk di dalamnya adalah tingkat kecerdasan rendah dengan indikator Nilai Ujian Nasional rendah. Mensikapi banyak kekurangan, terutama masalah kepandaian (kadang dengan kalimat murid pintar dan bodoh) adalah seni seorang guru dalam menjalankan tugasnya. Menerima segala keadaan murid adalah sebuah sikap yang harus dijalani dengan segala konskuensinya. Perlu berbesar hati dan berlapang dada ketika murid yang dihadapi adalah murid-murid yang mempunyai banyak kekurangan. Lebih pas, sikap ini disebut Ikhlas.
Keikhlasan. Sikap dasar ini harus ada dalam hati seorang guru. Menerima amanat murid yang kurang mampu adalah sikap yang tidak boleh dikhianati. Tidak boleh menyalahkan keberadaan murid dengan kekurangannya, sebab kalau kita pikir, menyalahkan keadaan mereka sama juga menyalahkan Tuhan yang telah menciptakan keadaannya. Seorang guru wajib hukumnya mempunyai sikap menerima kekurangan dan kelebihan yang dimiliki murid-muridnya. Guru seharusnya mempunyai target mampu merubah keadaan yang ada menjadi lebih baik. Jika rasa ikhlas sudah ada dalam rangka menjalankan tugas, maka guru akan selalu mencari jalan agar mampu membawa murid merasa percaya diri yang besar. Selain sikap ikhlas, guru hendaknya berusaha lebih bersikap empati dengan cara membangun hubungan yang dekat.
Membangun kedekatan dengan mereka adalah salah satu usaha kita lebih memahami mereka. Secure attachment (kedekatan emosi yang aman) sangat berpengaruh pada murid sehingga murid merasa sangat diterima oleh gurunya. Adanya keadaan kedekatan guru dengan murid akan berdampak positif yaitu murid merasa mempunyai harga diri dan tumbuh pula sikap percaya diri yang kuat. Sikap apatis dan merasa “selalu tidak bisa” akan terkikis sedikit demi sedikit karena murid tidak sungkan akan bertanya atau menyampaikan problem-problem yang mereka hadapi. Kedekatan guru dan murid juga mampu menumbuhkan rasa kasih sayang di lingkungan sekolah. Membangun cinta di antara semua pelaku pendidikan di sekolah.
Membangun cinta selalu bersemi dalam proses belajar mengajar bisa dilakukan dengan banyak cara. Kata-kata yang halus, kebapakan atau keibuan akan menyentuh dalam perasaan murid. Apa yang terjadi pada murid dalam upaya belajar bukan sebatas menerima apa adanya, tetapi juga mampu mendengar dengan kekuatan “heart” ( hear/ mendengar dan art/seni), mendengar dengan sepenuh hati. Guru juga mendengar dengan hati, terhadap keluhan-keluhan murid. Semua bisa dilalui dengan kemesraan cinta yang terbentuk. Ada hikmah yang lebih bermakna dari banyak melihat, mendengar, empati pada kekurangan- kekurangan murid kita. Salah satu hikmah adalah semakin banyak pahala yang kita raup dengan banyak sabar dan banyak berusaha (baca: ibadah) mengajar pada kekurangan-kekurangan murid. 
Kekurangan muridku adalah anugerah Tuhan. Kita rubah kekurangan-kekurangan tersebut menjadi kelebihan, dari yang kecil – kecil. Dari beberapa langkah tadi, semoga prestasi akan teraih dari awal kekurangan murid. Seperti kata Ustadz Abdullah Gymnastiar “Mulailah dari yang paling kecil dan mulailah saat ini juga”. Yuks, maju terus.
Oleh : Agus Junaedi, SPd. Guru IPA SMPN 10 Salatiga.